BO Shiokuda2 Adalah Agent Togel Online Dan Casino Online Aman Dan Terpercaya. Pelayanan DEPOSIT Dan WITHDRAW Yang Sangat Aman Dan Terpercaya. Yuk Segera GABUNG DAFTARKAN Diri Anda Di Agent Togel Online Dan Casino Online Hanya Di BO Shiokuda2 Dan Nikmati New Promo!! Jam Tutup Pasaran Hongkong Sekarang Di Shiokuda-2 Jam 22:30 Wib Berlaku Untuk Seterusnya | Bonus Deposit Harian Rp 3.000.- Jika Deposit Di Atas Rp 100.000.- | Dapatkan Bonus Add Number Di Pasaran Singapore Toto 2D x80 3D x500 4D x3300 | Untuk member Shiokuda2.COM Yang Kesulitan LOGIN Bisa Menggunakan Link Alternatif Kami Di www.ladambesi.com(Versi PC) www.ladambesi.com/wap (Versi HP) | Nikmati Kenyamanan Dan Keamanan Di BO Terpercaya Shiokuda2.com | Proses Deposit SUPER CEPAT Dan WD DI BAYAR LUNAS.

LIVEDRAW PASARAN

DAFTAR PASARAN
LIVEDRAW MELBOURNE
LIVEDRAW MELBOURNE BUKA SETIAP HARI | TUTUP: 13:30 WIB | BUKA: 14:00 WIB | LINK ALTERNATIVE : www.kudadua.com
LIVEDRAW SYDNEY
LIVEDRAW SYDNEY BUKA SETIAP HARI | TUTUP: 13:15 WIB | BUKA: 14:00 WIB | LINK ALTERNATIVE : www.kudadua.com
LIVEDRAW SINGAPORE
LIVEDRAW SINGAPORE JUMAT&KAMIS LIBUR | TUTUP: 17:30 WIB | BUKA: 17:45 WIB | LINK ALTERNATIVE : www.tunggangkuda.com
LIVEDRAW HONGKONG
LIVEDRAW HONGKONG BUKA SETIAP HARI | TUTUP: 22:30 WIB | BUKA: 23:00 WIB | LINK ALTERNATIVE : www.kudadua.com

Kamis, 06 Juni 2019

Keluarga Indonesia Terancam Dideportasi dari Australia Karena Autisme Anak


Keluarga Indonesia Terancam Dideportasi dari Australia Karena Autisme Anak Poster Dukungan untuk Dimas
Jakarta - Seorang anak asal Indonesia Dimas Tri Wibowo mengalami kemajuan pesat sebagai anak dengan autisme, tapi usaha keluarganya untuk dapat visa menetap permanen di Australia ditolak karena kondisi Dimas dianggap bisa membebani layanan kesehatan dan masyarakat.
Terancam dideportasi karena autisme
  • Autisme Dimas dianggap membebani layanan masyarakat
  • Dimas disiapkan untuk bisa bekerja dan tidak membebani pembayar pajak
  • Pertimbangan Menteri Imigrasi jadi harapan terakhir keluarga Dimas
Dr Cameron Gordon, seorang profesor di Australian National University (ANU) mengajukan petisi online kepada Menteri Imigrasi, Kewarganegaraan, Layanan Migran, dan Urusan Multikultural Australia agar menganulir keputusan penolakan visa tinggal permanen untuk Dimas, seorang anak dengan autisme dari keluarga Indonesia yang terancam dideportasi.
Muhammad Dimas Tri Wibowo masih berusia 3,5 tahun ketika pindah ke Canberra, Australian Capital Territory (ACT) karena ibunya, Yuli Rindyawati menempuh program doktoral bidang ekonomi di University of Canberra pada tahun 2009.
Cameron Gordon adalah pengawas utama Yuli ketika menjalani program doktoral.
Selain untuk belajar, Yuli memboyong keluarganya ke Australia untuk memberi kesempatan pada anak-anaknya mengenal Australia seperti dia yang pernah belajar di Sydney pada tahun 1997 hingga 2000.
Di sydney, Yuli bertemu Heri Prayitno dan kemudian menikah serta memiliki tiga anak, yaitu Adela Ramadhina yang sedang kuliah di University of Canberra, Ferdy Dwiantoro yang kini kelas 11, dan Dimas.
Yuli (dua dari kiri) bersama ketiga anaknya, yaitu Adela Ramadhina, Dimas Tri Wibowo dan Ferdy DwiantoroYuli (dua dari kiri) bersama ketiga anaknya, yaituAdelaRamadhina,Dimas TriWibowo danFerdyDwiantoro.Supplied

Ketika akan mendaftar ke sekolah dasar, Dimas disinyalir berkebutuhan khusus.
"Saya dan suami diminta untuk mengikuti berbagai macam pengujian dan wawancara untuk mendiagnosa kondisi Dimas. Setelah melalui berbagai tes dan wawancara, psikiater mendiagnosa Dimas dalam kondisi autisme," kata Yuli kepada Alfred Ginting dari ABC Indonesia.
Kemudian oleh dokter spesialis anak dari Community Paediatric and Child Health Service ACT Dimas mendapatkan rujukan untuk masuk ke Malkara (special) School.
Kemajuan pesat tanpa menghabiskan banyak biayaSelama belajar di Malkara, Dimas mengalami banyak kemajuan terutama di bidang musik dan aktivitas di meja.
Beberapa kemajuan Dimas yang signifikan di antaranya, mengikuti instruksi dalam bahasa Indonesia dan Inggris, melakukan pekerjaan rumah seperti membuang sampah, mencuci piring, berkomunikasi melalui visual PECS (picture exchange communication).
"Di tahun ke-4 sekiolah, Dimas sudah bisa menggunakan toilet sehingga tidak lagi menggunakan popok, bisa bersepeda, bisa mengerjakan puzzle. Tahun ke-5 dia bisa mengenal huruf, terutama namanya. Dia mulai bisa bersosialisasi dengan keluarga di rumah, berangkat ke sekolah naik bis, bersikap tenang kalau dibawa ke supermarket dan tempat-tempat umum lainnya," jelas Yuli.

Dimas bersepeda Sebagai anak dengan autisme Dimas mengalami perkembangan sangat pesat, seperti sudah bisa bersepeda dan berenang
"Begitu besar perubahan Dimas mulai prilaku yang awalnya sulit untuk kami kontrol, sehingga suatu hari kami pernah kehilangan Dimas di supermarket, sampai kemudian dia belajar bagaimana bersikap di tempat perbelanjaan," kata Yuli.
Melihat kemajuan yang dicapai Dimas selama sekolah hampir 10 tahun, Yuli dan keluarganya memutuskan untuk mengajukan visa tinggal permanen di Australia lewat jalur graduate skilled visa pada tahun 2016.
"Ini bukanlah keputusan yang mudah, karena keluarga besar di Indonesia meminta kami untuk kembali ke Tanah Air," kata Yuli.
Setelah menjalani tes kesehatan, Dimas dinyatakan tidak lolos.
"Kondisi autismenya dianggap Public Interest Criteria (PIC), menurut peraturan Imigrasi, berbiaya signifikan terhadap layanan kesehatan dan masyarakat Australia," kata Yuli.
Australia menjalankan sistem jaminan layanan kesehatan dan kesejahteraan, termasuk untuk warga berkebutuhan khusus yang berhak mendapat tunjangan dari lembaga Centrelink.
Yuli mengajukan banding atas putusan Imigrasi ke Administrative Appeal Tribunal (AAT) dan Dimas diberi kesempatan untuk tes kesehatan lagi.
Dari hasil tes kesehatan yang kedua, kondisi autisme Dimas turun dari tingkat severe (parah) menjadi moderate, dan kemampuan komunikasi Dimas meningkat dari non-verbal menjadi tertunda bicara (speech delay).
Namun dengan semua dokumen pendukung yang diserahkan ke AAT, pengajuan visa permanen oleh Yuli masih ditolak dengan alasan yang sama dengan Departemen Imigrasi.
Kondisi Dimas dinyatakan tetap berbiaya signifikan terhadap masyarakat Australia.
Hanya perlu sekolah sampai usia 18 tahun.Dokter dalam pemeriksaan kesehatannya menyatakan Dimas hanya perlu melanjutkan sekolah sampai umur 18 tahun.
Kini Dimas belajar di Woden School yang setara SMA, dan ia sudah mengenal angka, uang kertas dan koin Australia.
Dimas juga mampu mengikuti semua instruksi secara verbal, mampu berkomunikasi secara verbal kepada keluarganya, dan juga mampu memecahkan persoalan yang ia hadapi.
"Dulu Dimas tidak suka dengan suara dari penyedot debu. Kalau suami saya pakai vacuum cleaner, Dimas lari ketakutan dan sembunyi di dalam toilet," kenang Yuli.
"Suatu hari saya melihat sendiri, dia menonton di youtube video cara menggunakan vacuum cleaner. Video itu diulang terus hingga suatu hari ketika suami saya membersihkan karpet, Dimas mendekat dan memegang vacuum cleaner kemudian menggerakannya."
Menurut Yuli hal-hal seperti itu mungkin tidak berarti bagi keluarga yang tidak mempunyai anak-anak berkebutuhan khusus.
"Namun perkembangan seperti itu yang membuat kami merasa Dimas lebih baik melanjutkan kehidupannya di Australia," kata Yuli.
Disiapkan untuk tidak membebani pembayar pajakDengan kemajuan kondisi Dimas, layanan yang akan dia terima kalau mendapat visa permananen menjadi berkurang.
Yuli juga mendalami berapa estimasi dana disabilitas yang akan diterima Dimas seandainya dia mendapat visa permanen untuk mengetahui sejau apa kondisi Dimas akan membebani layanan masyarakat.
"Setelah dihitung oleh staf Centrelink Dimas hanya akan memperoleh AU$ 100 per dua minggu. Itupun tidak otomatis diberikan karena akan ada peninjauan dan hanya akan diberikan kalau keluarga mengajukan permohonan," kata Yuli.
"Selama 10 tahun saya dan suami yang menanggung seluruh biaya kesehatan Dimas. Alhamdulillah selama membesarkan Dimas tidak banyak menghabiskan biaya karena pembawaan Dimas tenang, tidak ada tantrum, dan punya sikap positif, tidak dalam pengobatan dan mudah."
Dimas dalam salah satu aktivitas favoritnya, berenangDimas dalam salah satu aktivitasfavoritnya, berenangSupplied
Upaya terakhir yang ditempuh Yuli adalah intervensi dari menteri imigrasi, dengan petisi online yang diajukan Cameron Gordon.
Sampai hari Kamis (6/6/2019) sore waktu Australia, petisi itu sudah didukung oleh lebih dari 1400 orang.
"Hasil petisi akan kami serahkan ke Menteri untuk menjadi bahan pertimbangan," kata dia.
Yuli merasa di Australia lebih tersedia dukungan untuk mempersiapkan Dimas ketika usianya sudah legal masuk dunia kerja sebagai pekerja yunior, yaitu pada tahun 2021.
"Saya menyewa terapis pribadi untuk melakukan on the job training buat Dimas yang sudah dimulai dari tahun 2018. Kesempatan bekerja adalah hal yang cukup langka bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti dia," kata Yuli.
"Kalau bisa bekerja berarti Dimas akan berkontribusi terhadap masyarakat dengan menjadi bagian dari angkatan kerja dan pembayar pajak, bukan membebani pajak."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar